TANAM PERDANA KEDELAI DI SUKAMULYA, PETANI SIAP GARAP 210 HEKTARE UNTUK KETAHANAN PANGAN NASIONAL


TANAM PERDANA KEDELAI DI SUKAMULYA, PETANI SIAP GARAP 210 HEKTARE UNTUK KETAHANAN PANGAN NASIONAL

 INDRAMAYU — Ratusan pasang mata berkaca-kaca menatap hamparan tanah seluas 210 hektare di Desa Sukamulya, Kecamatan Tukdana. Minggu (26/4/2026), menjadi hari bersejarah ketika lebih dari 400 petani, tokoh masyarakat, akademisi kelas atas, hingga perwira TNI Angkatan Laut turun langsung membakar tanah dengan benih-benih kedelai unggulan.

"Selama bertahun-tahun masyarakat kami cuma jadi penonton di tanah sendiri. Hari ini, sejarah itu kita ubah!" seru Kepala Desa Sukamulya penuh emosi saat membuka acara Tanam Perdana Kedelai.

Ini bukan sekadar acara ceremonial potong pita. Ini adalah aksi pembalasan atas trauma masa lalu, di mana tanah Sukamulya yang amat subur kerap tak mampu menyejahterakan penggarapnya.

Amunisi Lengkap: Petani Tinggal Tanam, Semua Dibiayai!

Sering kali petani takut melangkah karena terkendala modal pupuk dan benih yang mahal. Namun, lewat kolaborasi raksasa ini, seluruh beban modal ditarik keluar dari pundak petani.

Ketua Kelompok Tani, Warsim, menegaskan di hadapan ratusan anggotanya bahwa seluruh amunisi tempur pertanian—mulai dari benih kedelai pilihan, pupuk, pestisida, hingga jaminan pembeli (offtaker)—telah ditanggung penuh oleh mitra pendukung dari PT Dewanta Global Nusantara.

"Para petani tidak perlu pusing memikirkan modal apalagi takut tidak ada yang membeli saat panen. Semua sudah dijamin dari A sampai Z. Tugas kita cuma satu: fokus menggarap lahan dan merawat tanaman dengan serius!" tegas Warsim disambut gemuruh tepuk tangan peserta.

Senjata Rahasia: Teknologi Mikroba Racikan Professor Ali

Yang membuat proyek 210 hektare ini berbeda dari program pertanian biasa adalah hadirnya sentuhan sains tingkat tinggi. Profesor Ali, pakar pertanian terkemuka yang memimpin tim teknis, menerjunkan langsung teknologi mikroba khusus untuk memulihkan nutrisi tanah Sukamulya.

Di tengah lahan, Profesor Ali memperagakan langsung cara pencampuran larutan mikroba, teknik penyemprotan presisi, hingga pengaturan jarak tanam ideal. Teknologi ini terbukti mampu mendobrak produktivitas kedelai hingga melompati rata-rata hasil panen nasional.

"Jika petunjuk teknis ini diterapkan secara disiplin, Sukamulya bukan cuma panen biasa, tapi akan mencetak rekor produksi baru," terang Profesor Ali optimistis.

"Bareng-Bareng Sugih": Gotong Royong Tanpa Batas

Dukungan moral dan finansial juga datang dari Haji Mulyadi, sosok donatur utama yang membakar semangat ratusan warga Sukamulya. Bagi Mulyadi, keberhasilan program ini tidak diukur dari seberapa ton kedelai yang diangkut truk, melainkan seberapa sejahtera hidup warga desa setelahnya.

"Target kita bukan cuma sekadar panen raya, tapi bagaimana masyarakat Sukamulya bisa maju dan sejahtera bersama. Bahasa sederhananya: bareng-bareng sugih (bersama-sama kaya)!" ucap Haji Mulyadi yang langsung disahut teriakan amin dari para petani.

Momen puncak terjadi saat jajaran akademisi, aparat TNI AL, pemerintah desa, dan ratusan petani berbaur masuk ke dalam lumpur untuk menancapkan benih pertama secara serentak. Sukamulya kini resmi bersiap menjelma menjadi episentrum baru sentra kedelai nasional—sebuah bukti nyata bahwa ketika petani, ilmuwan, militer, dan swasta bersatu, kemandirian pangan Indonesia bukan lagi sebatas mimpi.

Post a Comment

أحدث أقدم