Dedi Mulyadi Dorong Indramayu Jadi Pusat Lapangan Kerja: Dari Pabrik Sepatu hingga Kedelai, “Saya Ingin Orang Indramayu pada Kerja”

Dari Obrolan Dedi Mulyadi, Haji Mulyadi dan Hasyim Djojohadikusumo, Muncul Cerita Kedelai Indramayu: Belum Panen, Warga Sudah Bisa Dapat Uang


INDRAMAYU — Suasana acara di Indramayu berlangsung cair ketika Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berbincang dengan sejumlah tokoh, termasuk Haji Mulyadi dan Hasyim.

Di tengah percakapan yang diselingi candaan, pembahasan kemudian mengarah pada persoalan yang jauh lebih serius: bagaimana pertanian bisa benar-benar menghasilkan uang untuk masyarakat Indramayu.

Salah satu yang menjadi perhatian Dedi adalah pengembangan tanaman kedelai.

Bagi Dedi, kedelai tidak boleh sekadar menjadi tanaman yang ditanam kemudian ditunggu sampai panen. Sejak lahan mulai disiapkan, masyarakat harus sudah bisa mendapatkan penghasilan.

Ia mencontohkan pekerjaan sederhana seperti membabat rumput dan membersihkan lahan.

“Orang sini enggak usah nanam kedelai, babat rumput saja sudah bisa kaya,” ujar Dedi.

Kemudian Dedi menyebut angka yang membuat suasana semakin menarik.

“Rp100.000 upahnya sampai jam 12.00 ibu-ibu,” katanya.

Pesan Dedi jelas. Program kedelai harus membuat ekonomi bergerak sejak sebelum panen.

“Jadi sebelum panen pun ekonominya sudah berjalan,” tegasnya.


Haji Mulyadi dan Hasyim dalam Percakapan Dedi

Dalam sambutannya, Dedi lebih dulu menyapa Hasyim yang disebutnya sebagai salah satu tokoh yang memiliki hubungan panjang dengannya.

Dedi mengenang pertemuan dengan Hasyim pada 2011 ketika Hasyim datang ke Purwakarta.

Dedi kemudian menceritakan dirinya saat itu masih menjadi bupati. Dengan gaya khasnya, ia mengenang bagaimana dirinya datang menggunakan sandal jepit, mengenakan baju putih dan ikat kepala putih.

Cerita tersebut membuat suasana acara cair sebelum pembahasan beralih pada persoalan pembangunan Indramayu.

Nama Haji Mulyadi juga muncul dalam percakapan tersebut. Dedi bahkan sempat bercanda mengenai kesamaan nama “Mulyadi”.

Namun di balik suasana santai itu, Dedi membawa pesan penting mengenai masa depan ekonomi masyarakat Indramayu.


Kedelai Harus Jadi Ladang Penghasilan

Dedi melihat budidaya kedelai memiliki peluang besar untuk dikembangkan di Indramayu.

Menurutnya, keuntungan ekonomi tidak harus menunggu tanaman menghasilkan biji.

Pekerjaan persiapan lahan pun dapat menjadi sumber pendapatan.

Masyarakat dapat dilibatkan untuk membabat rumput, membersihkan lahan dan melakukan berbagai pekerjaan sebelum penanaman.

“Bikin yang sebanyak-banyaknya enggak apa-apa yang nanam biar ketua koperasi,” ujar Dedi.

Sementara masyarakat dapat memperoleh penghasilan dari pekerjaan pendukung.

Pola tersebut dinilai membuat perputaran ekonomi berlangsung lebih cepat.

Tanaman belum panen, tetapi masyarakat sudah bekerja dan mendapatkan upah.


Ada Rp100 Ribu untuk Ibu-Ibu

Salah satu bagian yang paling ditekankan Dedi adalah keterlibatan perempuan dalam aktivitas ekonomi tersebut.

Ia menyebut pekerjaan membabat rumput dapat memberikan upah sekitar Rp100 ribu hingga tengah hari.

Bagi sebagian masyarakat, angka tersebut mungkin terlihat sederhana.

Namun jika dilakukan secara rutin dan melibatkan banyak orang, pekerjaan tersebut dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga.

Dedi pun melihat hal tersebut sebagai salah satu cara agar program pertanian memiliki dampak langsung terhadap masyarakat.

“Jadi sebelum panen pun ekonominya sudah berjalan,” katanya.


Jangan Sampai Kedelai Dipanen Saat Masih Hijau

Dedi kemudian mengingatkan tantangan lain.

Menurutnya, salah satu persoalan budidaya kedelai di Jawa Barat adalah tanaman sering kali tidak dibiarkan hingga mencapai masa panen optimal.

“Orang Jawa Barat kalau nanam kedelai banyak yang tidak sampai panen,” ujarnya.

Tanaman yang masih hijau terkadang sudah dipotong, diikat dan dijual.

Dedi berharap kebiasaan tersebut dapat diperbaiki melalui program yang lebih serius.

Ia ingin produktivitas kedelai meningkat sehingga petani tidak hanya mendapatkan penghasilan dari proses budidaya, tetapi juga memperoleh hasil maksimal ketika panen.

“Mudah-mudahan kedelainya bisa mekar. Kemudian hasilnya nanti memuaskan semua pihak. Produktivitas kedelainya meningkat,” katanya.


Mengapa Dedi Mendorong Kedelai?

Bagi Dedi, kedelai bukan hanya soal komoditas.

Ada persoalan yang lebih besar di baliknya: kondisi tanah pertanian Jawa Barat.

Ia menyoroti penanaman padi yang berlangsung terus-menerus. Dalam setahun, menurutnya, petani bahkan bisa menanam padi tiga hingga empat kali.

Tanpa jeda dan pergiliran tanaman, kondisi tanah dinilai dapat semakin menurun.

Kebutuhan pupuk meningkat. Serangan hama juga dapat meningkat sehingga biaya produksi petani semakin besar.

Karena itu, Dedi mendorong agar kedelai dan kacang tanah masuk dalam pola pergiliran tanaman.

“Setahun sekali nanam kedelai dan nanam kacang tanah atau suuk. Orang Sunda bilang itu harus dilakukan untuk menjaga kesuburan tanah,” ujarnya.


Indramayu Punya Modal Besar

Indramayu memiliki lahan persawahan yang luas dan selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil beras.

Selain padi, daerah tersebut juga memiliki potensi perikanan, mangga gedong gincu, tebu dan kini mulai mengembangkan kedelai.

Dedi melihat kondisi tersebut sebagai modal besar.

Tantangannya adalah bagaimana potensi itu tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Karena itu, ia ingin program kedelai melibatkan masyarakat sejak tahap awal.

Mulai dari membersihkan lahan, membabat rumput, menanam, merawat hingga memanen.


Kedelai yang Menghidupkan Ekonomi Sebelum Panen

Dari percakapan santai Dedi Mulyadi bersama Haji Mulyadi dan Hasyim, muncul satu pesan besar tentang arah pembangunan pertanian Indramayu.

Kedelai tidak boleh hanya dilihat sebagai tanaman.

Ia harus menjadi bagian dari perputaran ekonomi masyarakat.

Jika lahan dibersihkan, ada warga yang bekerja.

Jika kedelai ditanam, ada petani yang memperoleh penghasilan.

Jika tanaman dirawat, ada tenaga kerja yang terserap.

Dan ketika akhirnya dipanen, hasilnya diharapkan mampu memberikan keuntungan lebih besar.

Itulah yang ingin dibangun Dedi di Indramayu: pertanian yang tidak hanya menghasilkan panen, tetapi menghasilkan pekerjaan dan pendapatan sejak awal.

Dan dari hamparan lahan kedelai itu, harapannya bukan sekadar tumbuh tanaman baru.

Yang tumbuh adalah ekonomi masyarakat Indramayu.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama